Jumat, 31 Agustus 2012
Sabtu, 25 Agustus 2012
Daftar Saham LQ45 Periode Agustus 2012 - Januari 2013
PT Bursa Efek Indonesia (BEI) melakukan perubahan terhadap penghuni
indeks LQ45. BEI mengeluarkan lima saham dari LQ45 dan memasukan enam
saham baru untuk periode Agustus hingga Januari 2013.
Demikian mengutip keterangan resmi BEI, Rabu (25/7/2012). Kelima saham yang harus keluar dari indeks LQ45 adalah saham:
PT Bank Tabungan Negara (BBTN),
PT Delta Dunia Makmur Tbk (DOID),
PT Gajah Tunggal Tbk (GJTL),
PT Krakatau Steel Tbk (KRAS)
PT Salim Ivomas Pratama Tbk (SIMP).
Sedangkan enam saham penghuni baru indeks LQ45 adalah saham :
PT Bhakti Investama Tbk (BHIT),
PT Sentul City Tbk (BKSL),
PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE),
PT BW Plantations Tbk (BWPT),
PT Intraco Penta Tbk (INTA)
PT Media Nusantara Citra Tbk (MNCN).
Dengan demikian saham yang masuk dalam daftar LQ45 adalah saham : AALI, ADRO, AKRA, ANTM, ASII, ASRI, BBCA, BBNI, BBRI, BDMN, BHIT, BJBR, BKSL, BMRI, BORN, BSDE, BUMI, BWPT, CPIN, ELTY, ENRG, EXCL, GGRM, HRUM, BCIP, INCO, INDF, INDY, INTA, INTP, ITMG, JSMR, KIJA, KLBF, LSIP, MNCN, PGAS, PTBA, SMGR, TINS, TLKM, TRAM, UNTR dan UNVR
Demikian mengutip keterangan resmi BEI, Rabu (25/7/2012). Kelima saham yang harus keluar dari indeks LQ45 adalah saham:
PT Bank Tabungan Negara (BBTN),
PT Delta Dunia Makmur Tbk (DOID),
PT Gajah Tunggal Tbk (GJTL),
PT Krakatau Steel Tbk (KRAS)
PT Salim Ivomas Pratama Tbk (SIMP).
Sedangkan enam saham penghuni baru indeks LQ45 adalah saham :
PT Bhakti Investama Tbk (BHIT),
PT Sentul City Tbk (BKSL),
PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE),
PT BW Plantations Tbk (BWPT),
PT Intraco Penta Tbk (INTA)
PT Media Nusantara Citra Tbk (MNCN).
Dengan demikian saham yang masuk dalam daftar LQ45 adalah saham : AALI, ADRO, AKRA, ANTM, ASII, ASRI, BBCA, BBNI, BBRI, BDMN, BHIT, BJBR, BKSL, BMRI, BORN, BSDE, BUMI, BWPT, CPIN, ELTY, ENRG, EXCL, GGRM, HRUM, BCIP, INCO, INDF, INDY, INTA, INTP, ITMG, JSMR, KIJA, KLBF, LSIP, MNCN, PGAS, PTBA, SMGR, TINS, TLKM, TRAM, UNTR dan UNVR
Inilah Saham yang Masuk Indeks IDX30
INILAH.COM, Jakarta - Bursa Efek Indonesia (BEI) akan meluncurkan indeks IDX30 pada Senin (23/4/2012).
Indeks ini terdiri dari 30 saham yang konstituennya dipilih dari konstituen indeks LQ45. Indeks ini diharapkan dapat digunakan sebagai produk investasi yang berbasis saham dan dapat menjadi acuan bagi investor untuk berinvestasi saham dengan likuiditas dan kapitalisasi besar. BEI akan melakukan kaji ulang indeks IDX30 setiap enam bulan untuk diberlakukan pada awal Februari dan Agustus. Demikian seperti dikutip dari situs BEI, Minggu (22/4/2012).
Berikut 30 emiten yang masuk dalam penghitungan indeks IDX30 periode Februari-Juli 2012 antara lain:
Indeks ini terdiri dari 30 saham yang konstituennya dipilih dari konstituen indeks LQ45. Indeks ini diharapkan dapat digunakan sebagai produk investasi yang berbasis saham dan dapat menjadi acuan bagi investor untuk berinvestasi saham dengan likuiditas dan kapitalisasi besar. BEI akan melakukan kaji ulang indeks IDX30 setiap enam bulan untuk diberlakukan pada awal Februari dan Agustus. Demikian seperti dikutip dari situs BEI, Minggu (22/4/2012).
Berikut 30 emiten yang masuk dalam penghitungan indeks IDX30 periode Februari-Juli 2012 antara lain:
PT Astra Agro Lestari Tbk (AAL)
PT Adaro Energy Tbk (ADRO)
PT Aneka Tambang Tbk (ANTM)
PT Astra International Tbk (ASII)
PT Bank Central Asia Tbk (BBCA)
PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI)
PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI)
PT Bank Danamon Indonesia Tbk (BDMN)
PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat dan Banten Tbk (BJBR)
PT Bank Mandiri Tbk (BMRI)
PT Borneo Lumbung Energi dan Metal Tbk (BORN)
PT Bumi Resources Tbk (BUMI)
PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN)
PT Bakrieland Development Tbk (ELTY)
PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG)
PT Gudang Garam Tbk (GGRM)
PT Vale Indonesia Tbk (INCO)
PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF)
PT Indocement Tunggal Prakasa Tbk (INTP)
PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG)
PT Jasa Marga Tbk (JSMR)
PT Kaleb Farma Tbk (KLBF)
PT Krakatau Steel Tbk (KRAS)
PT Lippo Karawaci Tbk (LPKR)
PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS)
PT Tambang Batubara Bukit Asam Tbk (PTBA)
PT Semen Gresik Tbk (SMGR)
PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM)
PT United Tractors Tbk (UNTR), dan PT Unilever Tbk (UNVR).
Selasa, 21 Agustus 2012
Tweet @dennyindrayana tentang #AdvokatKorup
Senin, 20 Agustus 2012
Inilah 5 Saham Terbaik versi Investor Awards 2012
JAKARTA. Lima perusahaan publik yang tercatat di Bursa Efek Indonesia
(BEI) berhasil meraih predikat 'Top Performing Listed Companies 2012'
dalam acara Investor Awards. Kelima perusahaan itu adalah PT Astra
International Tbk (ASII), PT Alam Sutera Reality Tbk (ASRI), PT United
Tractors Tbk (UNTR), PT Intraco Penta Tbk (INTA) dan PT Lippo Cikarang
Tbk (LPCK).
Kelimanya memperoleh penghargaan karena membukukan kinerja fundamental dan teknikal paling mumpuni selama 2011. "Apresiasi pasar saham atas lima perusahaan ini pun cukup tinggi, yang tercermin pada likuiditas perdagangan maupun pergerakan harga," kata Ketua Dewan Juri, Sidharta Utama, dalam acara Investor Swards 2012, di Jakarta, Rabu (9/5) malam.
Lebih lanjut Sidharta mengungkapkan, jika pemeringkatan kali ini mengambil tema 'manage risk and capture opportunity'. Tema ini sengaja diambil untuk menggali lebih jauh, manajemen dapat mengelola perusahaan di tengah ketidakpastian karena belum pulihnya krisis global sambil berupaya menangkap peluang bisnis yang ada.
Ada sembilang persyaratan awal bagi emiten yang diperingkat. Pertama, kepatuhan emiten dalam mempublikasikan laporan keuangan tahun buku 2011. Kedua, emiten yang dilibatkan dalam pemeringkatan harus sudah tercatat di BEI sebelum 2011. Ketiga, tidak mendapat opini disclaimer dan adverse dari akuntan publik. Keempat, tidak membukukan rugi bersih 2011. Kelima, memiliki ekuitas tak kurang dari Rp 50 miliar.
Keenam, saham emiten itu tergolong aktif selama periode 1 April 2011-31 Maret 2012. Ketujuh, laporan keuangan emiten yang diperingkat harus bertahun buku Desember. Kedelapan, memiliki ekuitas positif selama dua tahun terakhir, dan kesembilan memiliki jumlah pemegang saham lebih dari 300 pihak.
Setelah seleksi awal, emiten yang lolos seleksi kemudian diperingkat, dengan menerapkan satu peringkat baru. Kriteria baru tahun ini adalah price earning to growth ratio (PEG), yakni PE dibagi pertumbuhan laba usaha satu tahun. Delapan kriteria lainnya meliputi return saham selama setahun, likuiditas saham, volatilitas saham untuk periode yang sama, pertumbuhan penjualan dalam tiga tahun, net operating margin (NM), return on equity (ROE), asset turn over (ATO), dan pertumbuhan laba operasi tiga tahun.
Berdasarkan keputusan Juri, lima emiten yang mencatat skor tertinggi terpilih dari 10 peraih nominasi emiten terbaik. Ke-10 nominasi terbaik dari seluruh emiten yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) dan ikut serta dalam pemeringkatan Investor Award adalah sebagai berikut :
1. PT Alam Sutera Tbk
2. PT AKR Corporindo Tbk
3. PT Astra International Tbk
4. PT Bank Rakyat Indonesia Tbk
5. PT Indomobil Sukses Makmur Internasional Tbk
6. PT United Tractors Tbk
7. PT Intraco Penita Tbk
8. PT Kawasan Industri Jababeka Tbk
9. PT Lippo Cikarang Tbk
10. PT Surya Semesta Internusa Tbk
Emiten terbaik berdasarkan sektor usaha :
1. Pertanian dan Peternakan : PT BW Plantation Tbk
2. Aneka Industri : PT Indomobil Sukses Internasional Tbk
3. Tekstil dan Garmen : PT Polychem Indonesia Tbk
4. Infrastruktur : PT Tower Bersama Infrastructure Tbk
5. Perdagangan dan Jasa : PT AKR Corporindo Tbk
6. Industri Dasar dan Primer : PT Resources Alam Indonesia Tbk
7. Industri Logam dan Kabel : PT Alumindo Light Metal Industry Tbk
8. Makanan dan Minuman : PT Nipon Indosari Corporindo Tbk
9. Rokok, Farmasi dan Keperluan Rumah Tangga : PT Unilever Indonesia Tbk
10. Investasi : PT Media Nusantara Citra Tbk
11. Perbankan : PT Bank Rakyat Indonesia Tbk
12. Industri Reksadana dan Sekuritas : PT Panin Sekuritas Tbk
13. Properti dan Konstruksi : PT Kawasan Industri Jababeka Tbk
14. Elektronika : PT Astra Graphia Tbk
15. Asuransi : PT Multi Artha Guna Tbk
16. Multifinance : PT Mandala Multifinance Tbk
17. Hotel, Restoran dan Pariwisata : PT Pudjuadi Prestige Tbk
Source
Kelimanya memperoleh penghargaan karena membukukan kinerja fundamental dan teknikal paling mumpuni selama 2011. "Apresiasi pasar saham atas lima perusahaan ini pun cukup tinggi, yang tercermin pada likuiditas perdagangan maupun pergerakan harga," kata Ketua Dewan Juri, Sidharta Utama, dalam acara Investor Swards 2012, di Jakarta, Rabu (9/5) malam.
Lebih lanjut Sidharta mengungkapkan, jika pemeringkatan kali ini mengambil tema 'manage risk and capture opportunity'. Tema ini sengaja diambil untuk menggali lebih jauh, manajemen dapat mengelola perusahaan di tengah ketidakpastian karena belum pulihnya krisis global sambil berupaya menangkap peluang bisnis yang ada.
Ada sembilang persyaratan awal bagi emiten yang diperingkat. Pertama, kepatuhan emiten dalam mempublikasikan laporan keuangan tahun buku 2011. Kedua, emiten yang dilibatkan dalam pemeringkatan harus sudah tercatat di BEI sebelum 2011. Ketiga, tidak mendapat opini disclaimer dan adverse dari akuntan publik. Keempat, tidak membukukan rugi bersih 2011. Kelima, memiliki ekuitas tak kurang dari Rp 50 miliar.
Keenam, saham emiten itu tergolong aktif selama periode 1 April 2011-31 Maret 2012. Ketujuh, laporan keuangan emiten yang diperingkat harus bertahun buku Desember. Kedelapan, memiliki ekuitas positif selama dua tahun terakhir, dan kesembilan memiliki jumlah pemegang saham lebih dari 300 pihak.
Setelah seleksi awal, emiten yang lolos seleksi kemudian diperingkat, dengan menerapkan satu peringkat baru. Kriteria baru tahun ini adalah price earning to growth ratio (PEG), yakni PE dibagi pertumbuhan laba usaha satu tahun. Delapan kriteria lainnya meliputi return saham selama setahun, likuiditas saham, volatilitas saham untuk periode yang sama, pertumbuhan penjualan dalam tiga tahun, net operating margin (NM), return on equity (ROE), asset turn over (ATO), dan pertumbuhan laba operasi tiga tahun.
Berdasarkan keputusan Juri, lima emiten yang mencatat skor tertinggi terpilih dari 10 peraih nominasi emiten terbaik. Ke-10 nominasi terbaik dari seluruh emiten yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) dan ikut serta dalam pemeringkatan Investor Award adalah sebagai berikut :
1. PT Alam Sutera Tbk
2. PT AKR Corporindo Tbk
3. PT Astra International Tbk
4. PT Bank Rakyat Indonesia Tbk
5. PT Indomobil Sukses Makmur Internasional Tbk
6. PT United Tractors Tbk
7. PT Intraco Penita Tbk
8. PT Kawasan Industri Jababeka Tbk
9. PT Lippo Cikarang Tbk
10. PT Surya Semesta Internusa Tbk
Emiten terbaik berdasarkan sektor usaha :
1. Pertanian dan Peternakan : PT BW Plantation Tbk
2. Aneka Industri : PT Indomobil Sukses Internasional Tbk
3. Tekstil dan Garmen : PT Polychem Indonesia Tbk
4. Infrastruktur : PT Tower Bersama Infrastructure Tbk
5. Perdagangan dan Jasa : PT AKR Corporindo Tbk
6. Industri Dasar dan Primer : PT Resources Alam Indonesia Tbk
7. Industri Logam dan Kabel : PT Alumindo Light Metal Industry Tbk
8. Makanan dan Minuman : PT Nipon Indosari Corporindo Tbk
9. Rokok, Farmasi dan Keperluan Rumah Tangga : PT Unilever Indonesia Tbk
10. Investasi : PT Media Nusantara Citra Tbk
11. Perbankan : PT Bank Rakyat Indonesia Tbk
12. Industri Reksadana dan Sekuritas : PT Panin Sekuritas Tbk
13. Properti dan Konstruksi : PT Kawasan Industri Jababeka Tbk
14. Elektronika : PT Astra Graphia Tbk
15. Asuransi : PT Multi Artha Guna Tbk
16. Multifinance : PT Mandala Multifinance Tbk
17. Hotel, Restoran dan Pariwisata : PT Pudjuadi Prestige Tbk
Source
Minggu, 19 Agustus 2012
"Apa sih bedanya Trading & Investasi?" by @pakarsaham
"Bisakah saya melakukan #TradingForLiving?" by @pakarsaham
Jumat, 13 Juli 2012
Mengenal Dividen Reksa Dana
Umumnya dividen reksa dana dibagikan oleh reksa dana terproteksi
dan reksa dana pasar uang. Namun baru-baru ini saya kebetulan sedang
meneliti dua reksa dana yang membagikan dividen namun jenisnya adalah
reksa dana pendapatan tetap dan reksa dana saham. Tidak hanya membagikan
dividen, namun reksa dana tersebut juga memiliki fitur yang unik.
Semoga sharing saya disini dapat membantu teman2 untuk semakin mengenal
dunia reksa dana.
Secara sederhana, jika investasi itu diibaratkan pohon yang harganya
bakal naik di masa mendatang dan bisa dijual pada harga yang lebih
tinggi, maka Dividen adalah istilah untuk buahnya. Investor obligasi
yang konservatif diibaratkan sebagai investor yang sabar menunggu pohon
tersebut berbuah. Karena lebih sabar dan pohonnya (baca: Modal) lebih
besar, maka buahnya sudah cukup untuk kebutuhan sehari-hari.
Sementara investor saham yang agresif, lebih banyak berharap pada kenaikan harga pohonnya daripada harus menunggu pohon tersebut menghasilkan. Belum tentu pula buah yang dihasilkan nantinya akan besar (baca: keuntungan) sesuai dengan yang diharapkan karena investor saham memiliki karakteristik yang lebih agresif. Bagaimana dengan dividen reksa dana?
Reksa
Dana juga memiliki karakteristik yang agresif dan konservatif. Namun
perlakuan dividen pada reksa dana agak berbeda dengan saham dan
obligasi. Dividen pada reksa dana umumnya direinvestasikan kembali
supaya bisa meningkatkan return investasi. Reinvestasi dalam bahasa
yang sederhana berarti buah yang dihasilkan dari pohon tersebut, dipakai
sebagai bibit untuk menanam pohon yang baru.
Sehingga dengan investasi reksa dana, “pohon” yang dihasilkan oleh investor bisa lebih banyak. Umumnya reksa dana pendapatan tetap, saham dan campuran menggunakan konsep ini.
Meski demikian, ada juga reksa dana yaitu reksa dana pasar uang dan terproteksi yang memberikan dividen seperti obligasi. Dividen tersebut dibagikan kepada investor dalam bentuk keuntungan yang besarnya dalam persentase tertentu terhadap nilai investasi. Untuk reksa dana pasar uang, besaran dividen bisa berkisar antara 4% – 8% net per tahun. Sementara untuk reksa dana terproteksi bisa lebih tinggi, bisa berkisar antara 7 hingga belasan persen per tahun. Semua hasil di atas sudah bersih alias tidak dipotong pajak lagi.
Salah satu keunikan dari dividen reksa dana pasar uang adalah NAB/Upnya yang selalu Rp 1000. Oleh sebab itu, dividen yang diterima oleh investor dalam bentuk “bonus unit”. Katakan anda berinvestasi sebesar Rp 10 juta. 1 tahun kemudian pada return per tahun disebutkan adalah 8%. Maka yang terjadi pada rekening reksa dana pasar uang anda adalah sebagai berikut
Konsep dividen pada reksa dana terproteksi itu sendiri pada dasarnya sudah hampir sama seperti deposito atau obligasi. Dividen dari reksa dana tersebut diterima investor dalam bentuk uang cash tanpa investor harus melakukan redemption seperti pada reksa dana pasar uang. Perbedaan yang lain adalah harga reksa dana terproteksi tidak selalu Rp 1000. Harganya bisa naik turun mengikuti harga pasar, karena jenis reksa dana terproteksi yang terbit sekarang ini memperbolehkan redemption sebelum reksa dana tersebut jatuh tempo. Periode redemption yang umumnya dilakukan pada tanggal pembagian dividennya.
Nah, konsep Dividen reksa dana menjadi complicated ketika diterapkan pada reksa dana yang “umumnya” melakukan reinvestasi terutama pada saat mau melakukan pengukuran kinerjanya. Jadi, meski amat jarang, ada reksa dana non pasar uang dan terproteksi yang melakukan pembagian dividen. Sebagai contoh Schroder Dana Andalan II adalah reksa dana pendapatan tetap yang membagikan dividen.
Grafik pergerakan harga yang bentuknya seperti gergaji tersebut menunjukkan setiap periode tertentu terjadi penurunan harga yang signifikan. Perlu teman2 ketahui bahwa penurunan berbentuk gergaji tersebut bukanlah berarti bahwa reksa dana tersebut mengalami kerugian yang besar, akan tetapi sebenarnya reksa dana tersebut membagikan dividen. Hanya saja, efek dari pembagian dividen tersebut menyebabkan harga reksa dana menjadi terkoreksi. Namun investor tidak mengalami kerugian dari koreksi karena mendapat bonus unit yang setara dengan penurunan tersebut.
Jadwal pembagian dividen sesuai informasi dalam prospektus akan dilakukan setiap triwulan. Investor reksa dana memiliki pilihan untuk mengkonversikan dividen ke dalam unit penyertaan atau menerima dividen dalam bentuk tunai. Meski demikian, di dalam prospektus juga dijelaskan bahwa dividen secara periodik tersebut bukan merupakan Jaminan / garansi akan didapatkan. Keputusan apakah ada pembagian dividen atau tidak ada di tangan Manajer Investasi.
Informasi lebih lanjut dapat dibaca di http://www.schroders.com/staticfiles/Schroders/Funds/Indonesia – Public Funds/Dana Andalan II/Bahasa/Schroder-Dana-Andalan-II-SP-IDBA.pdf
Salah satu kesulitan untuk melakukan kinerja jenis reksa dana seperti ini adalah diperlukan NAB/Up “asumsi” dimana seandainya seluruh dividen direinvestasikan kembali. Sebab jika hanya menggunakan NAB/Up yang dipublikasikan di koran, informasi yang didapatkan oleh investor bisa salah karena tidak memperhatikan tingkat dividen. Perhitungan NAB/up Asumsi tersebut juga dimungkinkan untuk dihitung secara manual apabila informasi dividen dari pertama kali reksa dana tersebut diterbitkan bisa diperoleh.
Ketika membaca tabel yang ada di homepage www.infovesta.com, teman2 juga harus menyadari bahwa tabel return tersebut dihitung dari NAB/Up adalah TANPA memperhatikan besarnya dividen. Untuk mendapatkan data NAB/Up Schroders Dana Andalan II yang telah memperhitungkan tingkat dividen bisa anda coba di http://www.schroders.com/indonesia/public-funds/daily-prices.
Reksa Dana lain yang memiliki karakteristik sejenis dimana ada opsi pembagian dividen antara lain seperti Manulife Pendapatan Bulanan II dan Mandiri Investa Dana Obligasi II (MIDO II).
Meski sama-sama membagikan dividen, namun tidak selalu pasti setiap reksa dana pendapatan tetap memiliki karakteristik yang sama. Sebagai contoh MIDO II memiliki sistem yang sedikit berbeda dimana pada kebijakan investasi disebutkan bahwa pembagian dividen dilakukan ketika NAB/Up reksa dana berada di 1000. Sementara jika harga reksa dana di bawah Rp 1000 maka pembagian dividen tidak dilakukan. Dengan kata lain, harga reksa dana bergerak naik turun dengan batas maksimal Rp 1000. Alhasil bentuk grafiknya sebagai berikut:

Ketika harga reksa dana flat di angka Rp 1000, pada saat itulah dividen reksa dana dibagikan. Dividen pada jenis reksa dana ini tidak menyebabkan harga terkoreksi seperti halnya reksa dana schroders di atas.
Selain reksa dana pendapatan tetap, ada pula reksa dana saham yang membagikan dividen. Meski bukan reksa dana saham pertama yang membagikan dividen, reksa dana yang baru-baru ini melakukan pembagian dividen juga memiliki cerita yang cukup unik. Pada tanggal 11 Juli 2011, reksa dana saham Batavia Dana Saham Agro yang terbit sejak Februari 2008 ini membagikan dividen dalam jumlah sedemikian rupa sehingga NAB/Up reksa dana terkoreksi ke harga Rp 1000.
Menurut informasi yang saya dapatkan, perusahaan berniat melakukan pergantian strategi investasi yang berbeda dengan strategi investasi pada awal reksa dana ini didirikan. Oleh karena itu, seolah-olah NAB/Up di reset untuk mengetahui efektivitas strategi pengelolaan yang baru dan mempermudah pengukuran di masa mendatang. Alhasil bentuk grafik NAB/Up menjadi sebagai berikut:

Demikian sharing saya kali ini, mudah2an tidak terlalu panjang dan apabila ada pembahasan yang kurang tepat atau informasi yang kurang lengkap / akurat mohon dikoreksi. Semoga bermanfaat bagi anda semua.
Penyebutan produk investasi (jika ada) tidak bermaksud untuk memberikan penilaian bagus buruk, ataupun rekomendasi jual beli atau tahan untuk instrumen tertentu. Tujuan pemberian contoh adalah untuk menunjukkan fakta yang menguatkan opini penulis. Kinerja Masa Lalu tidak menjadi jaminan akan kembali terulang pada masa yang akan datang.
Source
Sementara investor saham yang agresif, lebih banyak berharap pada kenaikan harga pohonnya daripada harus menunggu pohon tersebut menghasilkan. Belum tentu pula buah yang dihasilkan nantinya akan besar (baca: keuntungan) sesuai dengan yang diharapkan karena investor saham memiliki karakteristik yang lebih agresif. Bagaimana dengan dividen reksa dana?
Sehingga dengan investasi reksa dana, “pohon” yang dihasilkan oleh investor bisa lebih banyak. Umumnya reksa dana pendapatan tetap, saham dan campuran menggunakan konsep ini.
Meski demikian, ada juga reksa dana yaitu reksa dana pasar uang dan terproteksi yang memberikan dividen seperti obligasi. Dividen tersebut dibagikan kepada investor dalam bentuk keuntungan yang besarnya dalam persentase tertentu terhadap nilai investasi. Untuk reksa dana pasar uang, besaran dividen bisa berkisar antara 4% – 8% net per tahun. Sementara untuk reksa dana terproteksi bisa lebih tinggi, bisa berkisar antara 7 hingga belasan persen per tahun. Semua hasil di atas sudah bersih alias tidak dipotong pajak lagi.
Salah satu keunikan dari dividen reksa dana pasar uang adalah NAB/Upnya yang selalu Rp 1000. Oleh sebab itu, dividen yang diterima oleh investor dalam bentuk “bonus unit”. Katakan anda berinvestasi sebesar Rp 10 juta. 1 tahun kemudian pada return per tahun disebutkan adalah 8%. Maka yang terjadi pada rekening reksa dana pasar uang anda adalah sebagai berikut
- Investasi Rp 10 juta / 1000 = 10.000 unit
- Return 8% = 8% x 10.000 Unit = 800 Unit
- Pada akhir tahun, anda memiliki saldo sebesar 10.800 unit x Rp 1000 = 10.800.000
Konsep dividen pada reksa dana terproteksi itu sendiri pada dasarnya sudah hampir sama seperti deposito atau obligasi. Dividen dari reksa dana tersebut diterima investor dalam bentuk uang cash tanpa investor harus melakukan redemption seperti pada reksa dana pasar uang. Perbedaan yang lain adalah harga reksa dana terproteksi tidak selalu Rp 1000. Harganya bisa naik turun mengikuti harga pasar, karena jenis reksa dana terproteksi yang terbit sekarang ini memperbolehkan redemption sebelum reksa dana tersebut jatuh tempo. Periode redemption yang umumnya dilakukan pada tanggal pembagian dividennya.
Nah, konsep Dividen reksa dana menjadi complicated ketika diterapkan pada reksa dana yang “umumnya” melakukan reinvestasi terutama pada saat mau melakukan pengukuran kinerjanya. Jadi, meski amat jarang, ada reksa dana non pasar uang dan terproteksi yang melakukan pembagian dividen. Sebagai contoh Schroder Dana Andalan II adalah reksa dana pendapatan tetap yang membagikan dividen.
Grafik pergerakan harga yang bentuknya seperti gergaji tersebut menunjukkan setiap periode tertentu terjadi penurunan harga yang signifikan. Perlu teman2 ketahui bahwa penurunan berbentuk gergaji tersebut bukanlah berarti bahwa reksa dana tersebut mengalami kerugian yang besar, akan tetapi sebenarnya reksa dana tersebut membagikan dividen. Hanya saja, efek dari pembagian dividen tersebut menyebabkan harga reksa dana menjadi terkoreksi. Namun investor tidak mengalami kerugian dari koreksi karena mendapat bonus unit yang setara dengan penurunan tersebut.
Jadwal pembagian dividen sesuai informasi dalam prospektus akan dilakukan setiap triwulan. Investor reksa dana memiliki pilihan untuk mengkonversikan dividen ke dalam unit penyertaan atau menerima dividen dalam bentuk tunai. Meski demikian, di dalam prospektus juga dijelaskan bahwa dividen secara periodik tersebut bukan merupakan Jaminan / garansi akan didapatkan. Keputusan apakah ada pembagian dividen atau tidak ada di tangan Manajer Investasi.
Informasi lebih lanjut dapat dibaca di http://www.schroders.com/staticfiles/Schroders/Funds/Indonesia – Public Funds/Dana Andalan II/Bahasa/Schroder-Dana-Andalan-II-SP-IDBA.pdf
Salah satu kesulitan untuk melakukan kinerja jenis reksa dana seperti ini adalah diperlukan NAB/Up “asumsi” dimana seandainya seluruh dividen direinvestasikan kembali. Sebab jika hanya menggunakan NAB/Up yang dipublikasikan di koran, informasi yang didapatkan oleh investor bisa salah karena tidak memperhatikan tingkat dividen. Perhitungan NAB/up Asumsi tersebut juga dimungkinkan untuk dihitung secara manual apabila informasi dividen dari pertama kali reksa dana tersebut diterbitkan bisa diperoleh.
Ketika membaca tabel yang ada di homepage www.infovesta.com, teman2 juga harus menyadari bahwa tabel return tersebut dihitung dari NAB/Up adalah TANPA memperhatikan besarnya dividen. Untuk mendapatkan data NAB/Up Schroders Dana Andalan II yang telah memperhitungkan tingkat dividen bisa anda coba di http://www.schroders.com/indonesia/public-funds/daily-prices.
Reksa Dana lain yang memiliki karakteristik sejenis dimana ada opsi pembagian dividen antara lain seperti Manulife Pendapatan Bulanan II dan Mandiri Investa Dana Obligasi II (MIDO II).
Meski sama-sama membagikan dividen, namun tidak selalu pasti setiap reksa dana pendapatan tetap memiliki karakteristik yang sama. Sebagai contoh MIDO II memiliki sistem yang sedikit berbeda dimana pada kebijakan investasi disebutkan bahwa pembagian dividen dilakukan ketika NAB/Up reksa dana berada di 1000. Sementara jika harga reksa dana di bawah Rp 1000 maka pembagian dividen tidak dilakukan. Dengan kata lain, harga reksa dana bergerak naik turun dengan batas maksimal Rp 1000. Alhasil bentuk grafiknya sebagai berikut:
Ketika harga reksa dana flat di angka Rp 1000, pada saat itulah dividen reksa dana dibagikan. Dividen pada jenis reksa dana ini tidak menyebabkan harga terkoreksi seperti halnya reksa dana schroders di atas.
Selain reksa dana pendapatan tetap, ada pula reksa dana saham yang membagikan dividen. Meski bukan reksa dana saham pertama yang membagikan dividen, reksa dana yang baru-baru ini melakukan pembagian dividen juga memiliki cerita yang cukup unik. Pada tanggal 11 Juli 2011, reksa dana saham Batavia Dana Saham Agro yang terbit sejak Februari 2008 ini membagikan dividen dalam jumlah sedemikian rupa sehingga NAB/Up reksa dana terkoreksi ke harga Rp 1000.
Menurut informasi yang saya dapatkan, perusahaan berniat melakukan pergantian strategi investasi yang berbeda dengan strategi investasi pada awal reksa dana ini didirikan. Oleh karena itu, seolah-olah NAB/Up di reset untuk mengetahui efektivitas strategi pengelolaan yang baru dan mempermudah pengukuran di masa mendatang. Alhasil bentuk grafik NAB/Up menjadi sebagai berikut:
Demikian sharing saya kali ini, mudah2an tidak terlalu panjang dan apabila ada pembahasan yang kurang tepat atau informasi yang kurang lengkap / akurat mohon dikoreksi. Semoga bermanfaat bagi anda semua.
Penyebutan produk investasi (jika ada) tidak bermaksud untuk memberikan penilaian bagus buruk, ataupun rekomendasi jual beli atau tahan untuk instrumen tertentu. Tujuan pemberian contoh adalah untuk menunjukkan fakta yang menguatkan opini penulis. Kinerja Masa Lalu tidak menjadi jaminan akan kembali terulang pada masa yang akan datang.
Source
Langganan:
Postingan (Atom)